Sunday, February 26, 2012

10 Pekerjaan Tahan Krisis Ekonomi

Angga Aliya : detikFinance

detikcom - Jakarta, Mencari pekerjaan yang tepat itu gampang-gampang susah. Kadang tidak sesuai dengan keinginan tapi gajinya lumayan, tapi kadang juga sesuai dengan impian tapi bayarannya kurang memuaskan.

Belum lagi faktor berkepanjangannya, beberarapa pekerjaan ada yang rentan dengan situasi eksternal, seperti ekonomi dan politik. Jenis pekerjaan seperti ini biasanya tidak bisa bertahan begitu ada krisis.

Lebih baik jika anda bisa menemukan pekerjaan yang bisa bertahan dalam puluhan tahun ke depan, tak peduli bagaimana tingkat pengangguran, ataukah ada teknologi baru atau pun perubahan jaman.

Seperit dikutip dari CNBC, Senin (27/2/2011), beberapa pekerjaan ini bisa dan sudah ditekuni dalam beberapa tahun tanpa tergantung faktor eksternal.

1. Ahli Farmasi
Sebuah penyakit yang diderita orang kadang tidak cukup hanya dengan istirahat di rumah dan makan bubur panas. Pada saat seperti ini lah ahli farmasi sangat dibutuhkan oleh dokter untuk menyiapkan obat yang tepat.

Dokter hanya akan memberitahu obat yang tepat, tapi seorang ahli farmasi lah yang meramu dan menyiapkan obatnya. Pekerjaan ini akan bertahan lama dan tidak akan terganggu faktor eksternal selama masih ada orang yang sakit.

2. Ahli Matematika
Matematika adalah salah satu fondasi alam semesta, kecuali fakta itu berubah maka seorang ahli matematika akan selalu dibutuhkan untuk konsultasi. Seorang ahli matematika sangat dibutuhkan di banyak bidang, termasuk komputer dan fisika. Biasanya gaji seorang ahli matematika tidaklah besar, tapi biasanya uang ang dihasilkan dair penelitian cukup besar.

3. Perencana Keuangan
Beberapa orang biasanya cukup percaya diri untuk mengatur keuangannya sendiri, akan tetapi lebih banyak lagi orang yang merasa perlu bantuan pihak lain untuk tempat berkonsultasi. Dengan demikian, ini menjadi garansi bahwa berkarir di perencana keuangan tahan lama.

Perencana keuangan membantu kliennya untuk mengatur aset, kewajiban, asuransi, investasi bahkan sampai ke dana pensiun dan arus kas. Di situasi tertentu, seorang perencana keuangan bisa menjadi benteng antara keberhasilan dan kebangkrutan seorang kliennya.

4. Akuntan
Kita semua tahu apa pekerjaan seorang akuntan. Kalau anda belum tahu, akuntan itu adalah seeorang dengan punya izin untuk mencari tahu berapa banyak uang yang harus anda setor ke pemerintah.

Penghasilan seorang akuntan tergantung kepada klien yang ia pegang, berdasarkan kuantitas dan kualitasnya. Tapi, selama pemerintah masih menerapkan pajak, pekerjaan ini tidak akan hilang ditelan zaman.

5. Penulis
Memilih karir sebagai penulis tidak hanya harus punya kemampuan untuk merangkai kata, tapi juga membutuhkan hasrat dan dedikasi yang tinggi. Seorang penulis juga harus siap menerima kritik, seperti ulasan di media massa yang mencemooh karya anda, atau cercaan langsung dari para pembaca.

Nah, penulis yang siap tahan banting kritikan di atas lah yang biasanya punya masa depan yang cerah. Karena dengan berbagai kritikan tersebut bisa diubah menjadi penyempurnaan tulisan.

Ada banyak bidang penulisan yang bisa dilakukan penulis, mulai dari penulis teknikal hingga novel. Semakin kreatif si penulis, maka semakin tinggi bayaran yang diterima. Bukan tidak mungkin jika si penulis dipakai untuk menulis naskah film.

6. Ahli Program Komputer
Ada krisis atau tidak, seorang ahli program komputer tidak akan terlalu terpengaruh. Selama komputer masih menjadi bagian dari pekerjaan dan kehidupan umat manusia, maka computer programmer akan selalu dibutuhkan, tidak peduli situasi ekonominya seperti apa.

Masa yang sulit bagi seorang ahli program komputer adalah jika manusia sudah bosan dengan teknologi karena minimnya inovasi. Tapi, sampai masa itu tiba (dan entah kapan akan terjadi), kariri ahli program komputer masih akan bertahan.

7. Guru
Guru adalah posisi paling dihormati di sekolah dan universitas. Memilih karir menjadi seorang guru atau dosen mendapatkan kepastian gaji dan stabilitas jangka panjang. Selama masih banyak anak kecil yang baru lahir, maka posisi sebagai pengajar masih akan dibutuhkan dalam jangka panjang.

Meski karir sebagai guru tidak akan memberikan kesejahteraan yang cukup, terutama di Indonesia, tapi jika anda menjadi seorang dosen itu lain lagi ceritanya.

8. Pekerja Konstruksi
Pekerja konstruksi merupakan kunci paling penting dalam pembangunan, terlepas dari arsitek dan kontraktornya. Pembangunan di sebuah negara tidak akan berjalan dengan baik tanpa seorang pekerja konstruksi yang terlatih.

Jenis pekerjaan seperti ini cukup rentan terhadap krisis. Jika ekonomi sedang turun, maka pembangunan akan melambat. Namun demikian, tanpa adanya pembagunan gedung baru, tetap saja banyak bangunan yang membutuhkan renovasi dan perawatan. Sehingga, tidak perlu takut untuk kehabisan pekerjaan.

9. Ahli Kimia
Ahli kimia punya keahlian yang dibutuhkan di banyak bidang, seperti teknologi, energi dan obat-obatan. Meski demikian, keahlian mereka tidak berhenti sampai di situ, masih banyak juga ahli kimia yang dibutuhkan di industri kosmetik, makanan dan minuman.

Meski banyak pihak yang tidak suka akan bahan kimian, tapi rasanya tidak mungkin untuk memikirkan kehidupan umat manusia tanpa adanya bahan kimia tidak berbahaya. Maka dari itu, secara jangka panjang ahli kimia masih akan eksis.

10. Koki
Jika anda merasa bersemangat dan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan setiap kali berada di dapur, ada uang yang bisa dihasilkan dari itu. Sebuah restoran mungkin saja punya potensi bangkrut, dan itu sangat nasib buruk bagi pemiliknya, tetapi bukan masalah bagi seorang koki.

Itu hanya pertanda bagi seorang koki untuk mulai mencari pekerjaan baru atau membuka restoran sendiri. Selama masih banyak orang yang suka makan tapi benci memasak sendiri, karir seorang koki dengan masakan enak tidak akan pudar. Begitu pula halnya selama banyak restoran baru yang akan dibuka, pasti butuh koki baru
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Friday, February 24, 2012

Leadership is About Leading Yourself First

Penulis : Urgyen Rinchen Sim

Seperti biasa, seminar kepemimpinan dengan pembicara Dr. JohnC. Maxwell berlangsung meriah. Jumlah peserta selalu melampaui kapasitas sehingga panitia harus ketat menjalankan aturan. Demikian pula kali ini. Seorang peserta bertanya kepada pembicara no.1 dunia tentang kepemimpinan tersebut, "Apakah tantangan terbesar Anda sebagai seorang Pemimpin?" Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana. Apa jawaban Dr. Maxwell? "Memimpin diri sendiri!" katanya tegas. "Itu selalu menjadi tantangan terbesar saya sebagai seorang pemimpin," tambahnya.

Memang demikianlah adanya. Kesulitan paling besar dalam memimpin adalah berjuang untuk memimpin diri sendiri. Baik Oprah Winfrey, George Washington, Mahatma Gandhi, atau bahkan Bunda Teresa adalah contoh pemimpin luar biasa dan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah. Tetapi, keberhasilan mereka sudah dimulai sebelumnya ketika mereka berhasil memimpin diri mereka sendiri terlebih dahulu. Jika kita jujur dengan diri sendiri, kita harus mengakui bahwa orang yang paling sulit untuk dipimpin adalah diri kita sendiri.

Kodrat manusia tampaknya memberikan kita kemampuan untuk mengukur semua orang di dunia, kecuali diri kita sendiri. Kenyataannya, sering kita tidak melihat diri kita seperti kita melihat orang lain dan kita lebih keras kepada orang lain ketimbang kepada diri kita sendiri. Dalam salah satu bukunya, Winning With People, Dr. Maxwell mengajarkan tentang "prinsip cermin" bahwa "orangpertama yang harus kita periksa adalah diri kita sendiri."

Jika kita tidak melihat diri kita sendiri secara realistis, kita tidak akan pernah mengerti letak kesulitan pribadi kita. Jika kita tidak dapat melihatnya, kita tidak akan mampu memimpin diri kita sendiri secara efektif dan optimal.

 

Inilah Kunci Memimpin Diri Sendiri

1. Kembangkan disiplin diri
Kita harus bertanggung jawab untuk dan atas perbuatan serta keputusan yang kita buat. Karena setiap individu adalah "kerajaan" dari hidupnya sendiri. Diperlukan disiplin diri untuk membuat keputusan yang baik secara konsisten, untuk menahan diri dari perbuatan yang salah, dan untuk mengambil tindakan yang benar. Sikap itu tidak boleh kendur sedetik pun karena orang sukses adalah manusia yang selalu disiplin setiap saat secara terus-menerus dan berkesinambungan. Tidak ada ceritanya, seorang disebut disiplin hanya pada saat tertentu dan tidak disiplin pada saat yang lain. Tidak ada orang sukses serta pemimpin sejati bersikap seperti itu.

2. Bertanggung jawab
Memimpin diri sendiri berarti menempatkan diri kita pada standar tanggung jawab yang lebih Tinggi dibandingkan orang lain. Kenapa demikian? Karena kita bertanggung jawab terhadap orang lain yang kita pimpin, sekaligus bertanggung jawab atas perbuatan diri kita sendiri. Kepemimpinan adalah kepercayaan, bukan hak. Kita harus selalu berusaha mengerjakan apa yang benar dan memperbaiki diri kita lebih dahulu dibandingkan orang lain agar tetap mendapatkan kepercayaan. Sekali kita lepas, maka kepercayaan pun akan terbang dari diri kita.

3. Belajar menjadi pengikut
Bagi sebagian orang, petuah ini terasa sangat berat. Buat mereka menjadi pengikut bukan hal mudah, bahkan mungkin lebih sulit dibanding menjadi pemimpin. Padahal, kuncinya adalah hanya pemimpin yang pernah menjadi pengikut, yang tahu dengan baik cara memimpin orang lain. Kepemimpinan yang baik mensyaratkan pengertian dan pemahaman terhadap dunia tempat para pengikut tinggal. Menjalin hubungan dengan orang lain menjadi lebih mudah jika kita sudah menjalani posisi mereka sebelumnya. Belajarlah untuk mengikuti kepemimpinan orang lain dan menjadi pengikut yang baik, maka kita akan menjadi pemimpin yang lebih rendah hati dan efektif.

4. Latih kesabaran
Hal ini bukan sekedar pepatah, "orang sabar disayang Tuhan." Kepemimpinan lebih daripada hanya pernyataan. Sudah dibahas di bagian lain bahwa menjadi pemimpin atau menjadi orang sukses bukanlah hasil dari proses dalam semalam. Tidak ada kepemimpinan instan, tidak ada kesuksesan serba cepat, semua perlu waktu dan proses serta persistensi.

_____________________

Urgyen Rinchen Sim
Founding Partner of John Maxwell Team
sim@johnmaxwellgroup.com
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Saturday, February 18, 2012

Sadisme yang Sudah Menghantui Anak

| Jimmy Hitipeuw | Dibaca : 1747 kali

Minggu, 19 Februari 2012 | 07:00 AM

KOMPAS.com - Banyak orang sungguh tak percaya. Bahkan, tim reserse Kepolisian Sektor Cinere, Kota Depok, pun terperanjat. Amn, bocah yang baru berusia 13 tahun yang duduk di Sekolah Dasar Negeri Cinere 1, tega menusuk bertubi-tubi SM (12), teman sekelasnya sendiri, hanya gara-gara telepon seluler.

Pada Jumat (17/2/2012) pagi, warga menemukan SM dalam got bersimbah darah dengan luka tusuk di delapan titik. Dari hasil pemeriksaan diketahui, Amn ternyata juga telah merencanakan perbuatan sadisnya itu.

Kejadian ini berawal Rabu. Amn bersama temannya, Gb (12) dan Kf (12), mencuri telepon seluler milik SM yang disimpan di rumahnya di RT 04 RW 01 Kelurahan Cinere, Kecamatan Cinere, Kota Depok. Amn memanfaatkan kondisi fisik kedua orangtua SM yang tunanetra.

Amn kemudian menjual telepon itu di kawasan Meruyung, Limo. Uang hasil penjualan Rp 110.000 itu dibagi-bagi. Amn mendapat Rp 50.000, Gb Rp 50.000, dan Kf Rp 10.000.

Kf menilai pembagian itu tidak adil dan mengadukan pencurian tersebut kepada SM. Saat SM meminta Amn agar mengembalikan telepon selulernya, Amn menolak. Pada Jumat, pukul 06.30, saat berangkat sekolah, Amn menjemput SM. Saat keduanya di Jalan Puri Pesanggrahan I dan suasana sepi, Amn menikam SM berkali-kali.

Mengapa Amn sampai sesadis itu, padahal usianya masih dini? "Dia dalam kondisi tertekan. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Lalu, menikam temannya sendiri," kata pemerhati anak, Seto Mulyadi, kepada Kompas.

Seto berpendapat, anak remaja seusia Amn seharusnya membutuhkan ruang gerak dan penyaluran persoalan dirinya. Sementara itu, satu tahun terakhir ini, Amn tinggal bersama kakaknya, Faisal, di rumah petak berukuran 4 meter x 8 meter di Jalan Raya Cinere Gang Buntu RT 4 RW 1 Kelurahan Cinere. Sejak pagi hingga petang, Amn ditinggal di rumah itu bersama keponakannya, Dila (7), karena Faisal dan istrinya, Yanti, sama-sama bekerja.

Gang Buntu, tempat Amn tinggal, membentang sepanjang sekitar 100 meter. Rumah petak tempat Amn tinggal terletak di pojok rentetan rumah. Tidak ada satu pun rumah petak yang memiliki halaman tempat bermain. Lorong di gang tersebut hanya dapat dilalui sepeda motor ataupun pejalan kaki.

Sebagian warga memang mengenal Amn sebagai anak nakal yang sering mencuri, membuat gara-gara ke teman lain, dan membentuk geng di sekolah. "Dia memang nakal, sering mencuri, dan rese," tutur Ahmad Aldi, teman Amn.

Sebaliknya, sebagian tetangga lagi malah mengira Amn sebagai anak baik. Dia rajin ke sekolah dan mengaji. Bahkan, SM yang menjadi korban penikaman juga teman satu kelas di sekolah, sekaligus teman mengaji.

"Saya tidak sangka, dia anak rajin. Sering menyapa saya kalau lewat depan rumah," kata Halimah (34), tetangga Amn.

Nurhasan (56), paman korban, pun sama sekali tidak menyangka Amn bakal menikam SM. Dia juga heran, Amn begitu jahat mencuri telepon seluler milik SM.

Benar apa yang dikatakan Koordinator Psikologi Terapan Intervensi Sosial, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (UI), Erita Nurhetali. Dia menilai kasus ini adalah potret gagalnya sebuah lingkungan mengajari anak.

Kasus ini memberi pelajaran berarti bagi semua warga metropolitan yang super sibuk dan akhirnya melupakan perhatian kepada buah hati mereka yang sesungguhnya justru sangat diperlukan di usia anak. (Andy Riza Hidayat)

 


Sumber : Kompas Cetak
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Wednesday, February 8, 2012

5 Resep Sukses Mark Zuckerberg

Fino Yurio Kristo : detikInet

detikcom - Jakarta, Perjuangan Mark Zuckerberg untuk membuat Facebook menjadi jejaring sosial terpopuler di dunia tentu tidak mudah. Tentu ada resep-resep khusus pria berambut kriwil ini, sehingga dalam usia muda mampu menuai sukses sedemikian tinggi.

Apa saja kira-kira resep sukses pemuda drop out dari Harvard University itu? Berikut 5 di antaranya, seperti diungkapkan oleh David Kirkpatrick, penulis buku The Facebook Effect: The Inside Story of the Company That is Connecting the World:

1. Percaya pada dirimu

Nasehat klasik ini memang sangat penting. Keyakinan diri yang sangat besar serta sifat positif membuat Zuckerberg mampu membangun Facebook dari nol. "Zuckerberg punya keyakinan luar biasa, dia mampu membuat impiannya jadi kenyataan," kata Kirkpatrick.

Kontras dengan citranya yang terlihat arogan di film The Social Network, Zuckerberg sesungguhnya tidak demikian. "Dia hanya seseorang yang sangat percaya diri," ucap Kirkpatrick.

2. Selesaikan tugasmu, jangan menunggu sampai sempurna

Zuckerberg fokus menyelesaikan sesuatu tanpa ditunda atau menunggu sampai sempurna. Jika ada kesalahan, dia berpikir akan selalu bisa memperbaikinya kemudian. Menurutnya, kesalahan adalah hal wajar.

Menurut Kirkpatrick, Zuckerberg memiliki sebuah filosofi tentang hal ini. Filosofi itu berbunyi, "Selesai itu lebih baik daripada sempurna,"

3. Berpeganglah pada visimu, jangan terpengaruh suara miring

"Zuckerberg dulu berada dalam posisi di mana tiap orang di sekitarnya mengatakan dia akan gagal dan apa yang ingin dicapainya terlampau tinggi," kata Kirkpatrick. Zuckerberg memang punya impian besar suatu saat Facebook akan digandrungi banyak orang.

Dia sangat yakin dengan visi itu sehingga menolak Yahoo yang ingin membeli Facebook tahun 2006 dengan harga USD 1 miliar. Visinya terbukti, sekarang Facebook memiliki 800 juta pengguna dan nilainya diprediksi USD 100 miliar.

4. Tidak hidup berlebihan

Siapa sangka sampai sekarang, Mark Zuckerberg masih tinggal di rumah sewaan di dekat kantor pusat Facebook. Penampilannya pun biasa-biasa saja. Padahal jumlah kekayaannya mencapai USD 17,5 miliar.

"Dia tidak pernah berlebihan dan pada akhirnya dia bisa saja memberikan semua uangnya," ucap Kirkpatrick. Ya, Zuckerberg juga dikenal sebagai sosok dermawan. Dia ikut program Giving my Pledge yang menyarankan orang-orang kaya menyumbangkan sebagian besar hartanya.

5. Ikuti passionmu, bukan uang

Kala membangun Facebook, uang bukan tujuan utama Zuckerberg. Dia mengikuti passionnya. Dia sangat bahagia menngoprek Facebook dan menciptakan cara baru untuk membantu orang terkoneksi.

Kesuksesan finansial mungkin akan mengikuti jika seseorang melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan gembira. "Baginya ini bukan tentang uang. Jika Zuckerberg membuat Facebook untuk uang, dia pasti sudah menjualnya beberapa tahun lampau," pungkas Kirkpatrick.
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Thursday, February 2, 2012

MIT Building Free Open Source Online Course Platform

MIT Building Free Open Source Online Course Platform

The institution that led the call for freely available lectures, videos, and exams created by its instructors and shared with the world will now do the same with online learning. The Massachusetts Institute of Technology (MIT), which opened up OpenCourseWare (OCW) in 2002, recently announced plans to develop the temporarily named MITx, a program to share some MIT courses freely through an online interactive learning platform. MIT said it expects the new initiative, which is expected to launch in spring 2012, eventually to host "a virtual community of millions of learners around the world."
According to the school, the learning platform will be used among its own students and be made available to other schools--both higher ed and K-12. The program will include online laboratories, course notes made available through OCW, online tutors, crowd-sourced grading of programs, automatic transcription, and student-to-student communication. Non-MIT people who demonstrate mastery of subjects will be able to earn a certificate of completion from MIT.
Once the infrastructure for the new endeavor has evolved into a stable state, MIT will release the code for the platform to enable others to improve and enhance it. Development of the platform is being led by Anant Agarwal, a professor of electrical engineering and computer science and director of MIT's Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL). "An open infrastructure will facilitate research on learning technologies and also enable learning content to be easily portable to other educational platforms that will develop. In this way the infrastructure will improve continuously as it is used and adapted."
The MITx work is being directed by MIT Provost Rafael Reif, as part of an on-going institution-wide research project that seeks to better understand online teaching and learning.
"Students worldwide are increasingly supplementing their classroom education with a variety of online tools," Reif said. "Many members of the MIT faculty have been experimenting with integrating online tools into the campus education. We will facilitate those efforts, many of which will lead to novel learning technologies that offer the best possible online educational experience to non-residential learners. Both parts of this new initiative are extremely important to the future of high-quality, affordable, accessible education."
OCW, which now hosts almost 2,100 MIT courses, sparked the new effort. "OpenCourseWare's great success signals high demand for MIT's course content and propels us to advance beyond making content available," said MIT President Susan Hockfield. "MIT now aspires to develop new approaches to online teaching."
The school affirmed its commitment to continue sharing course materials through OCW free of charge.
According to a frequently-asked questions document online, earning a credential through MITx's certification program won't be the same as obtaining an MIT degree. As the FAQ lays out, the school "awards MIT degrees only to those admitted to MIT through a highly selective admissions process."
The credential will involve fees and will be managed by a non-profit body within MIT. "The aim," stated the FAQ, "is to make credentialing highly affordable." It also emphasized that the credential will carry a name distinct from MIT's "to avoid confusion." MITx is a temporary name for the initiative. Funds generated through the credentialing process will be plowed back into MIT's open learning work.
About the Author
Dian Schaffhauser is a writer who covers technology and business for a number of publications. Contact her at dian@dischaffhauser.com.

5 E-Learning Trends for Higher Ed


Mobile devices, digital textbooks, online environments, and other e-learning tools have permeated every corner of higher education over the last few years and the trend is expected to continue. To get some insights into what's on the horizon, Campus Technology spoke with a group of academics and instructional technologists. Here are their five e-learning trends to watch.

Digital texts will continue to gain ground
Digital textbooks have been on the college CIO's mind for years, but 2012 could be the year when e-readers make their debut in more classrooms. At George Fox University in Newberg, OR, for example, CIO Greg Smith said the college is currently converting its bricks-and-mortar bookstore into one that supplies digital textbooks from vendors like Amazon and Powell's Books. He said the move reduces book costs for students, ensures that they can easily access the latest versions of the texts, and eliminates the need for physical books and a location from which to sell them. Using digital texts also eases the financial burden of running a bookstore. "It's pretty well known that schools--particularly smaller institutions--don't make money off of their bookstores," said Smith, who expects a similar movement to digital texts to continue growing in the college library space. "We're already seeing universities digitally archiving books and changing the way their libraries are used. I expect that will continue in 2012 as well."
Distance learning programs will ramp up
With 4 percent of all undergraduates and 9 percent of graduate students completing their degree programs completely online according to the United States Department of Education report The Condition of Education 2011, schools are stepping up to the plate to support their distance education programs with robust tools. At Rollins College in Winter Park, FL, for example, CIO Pat Schoknecht said the school plans to invest in a real-time videoconferencing setup. "We do a lot of collaboration and shared teaching with other institutions, but we also strive to maintain strong faculty-student relationships," said Schoknecht. "We see telepresence as the right IT tool to help us achieve that goal." In 2012 Rollins College will install a telepresence room where students and faculty will be able to communicate in real-time using high-quality video capabilities. "We're moving in this direction because telepresence is becoming more mainstream," said Schoknecht. "It's not just Duke and Harvard that are using it anymore."
The online learning environment will be more personalized
The online learning environment will become more personalized in 2012 as advancements in interactive technologies take center stage on the college campus. For example, students and faculty will be able to use avatars to create more personalized and interactive learning experiences, said Frank Mulgrew, president of Post University's Online Education Institute, who sees the price decreases for such technology playing a key role in higher ed's adoption of such innovations. The technology applies in the physical classroom as well as in the distance learning space and in hybrid educational setups. "A lot of the technology is getting to price points where we can get it into the faculty's hands," said Mulgrew, "and allow faculty to create very high quality, interactive, creative content on the fly."
Faculty will use even more mobile technology and apps
Tablets, laptops, and mobile phones are each playing their respective roles in the mobile revolution that's taking place on today's college campus. That movement is expected to continue in 2012 as even more devices are introduced and as IT teams and faculty find increasingly creative ways to integrate the technology in the classroom. "The biggest trend on the instructional technology side right now is definitely the mobile movement," said Schoknecht. Within that spectrum lies the application--a component that Schoknecht says he expects to play a critical role in mobile adoption on campus in 2012. Their versatility and the fact that they don't rely on computer labs or expensive software packages make apps particularly attractive for higher ed. "For a few bucks you can get a very specialized function onto a computing device and do pretty amazing things with it," she said. "Faculty members who can match apps with their teaching objectives can tap into a cost effective system that's relatively easy for students to use."
IT tools and programs will become more tightly integrated
They aren't the sexiest technology topics, but systems integration and well-defined workflows will definitely be top-of-mind for many college CIOs in the coming year. "Students expect faster and more responsive service," said Mike Statmore, CIO at Post University in Waterbury, CT. "The only way to provide that is through integration of systems and workflow at every student touch point." Look for more institutions to tear down their disparate, department-specific IT systems in 2012 in favor of more integrated and interdependent systems that work together in real-time. "The ability to share information among multiple departments in real-time is no longer nice to have," Statmore said. "It's a need to have."
About the Author
Bridget McCrea is a business and technology writer in Clearwater, FL. She can be reached at bridgetmc@earthlink.net.