Sunday, November 4, 2018

Workshop CCTV Network Engineer - Jababeka Cikarang 22 Nov 2018

Bekerjasama dengan HIKVISION, melalui salah satu distributornya, PT Prima Inovasi Teknologi (PIT), anak perusahaan PT Daya Cipta Mandiri Solusi, yaitu PT Kota Cerdas Indonesia akan mengadakan workshop CCTV Network Engineer.



Workshop CCTV Network Engineer diadakan bersamaan dengan kegiatan Smart City Expo 21-23 November 2018 yang dilaksanakan di Plaza JB Hall 2 Jababeka Cikarang.



Untuk register visit dapat ke : https://www.tpmi-expo.com/to-visit

Sedangkan untuk registrasi ikut dalam workshop CCTV Network Engineer dapat mendaftar ke Nurmah 0881-8867333.

Materi yang diberikan adalah operasional CCTV Hikvision dan penggunaan PRTG Network Monitoring. Sertifikasi akan diberikan oleh APTIKNAS - ASISINDO bagi yang hadir, sehingga memudahkan untuk bisa bekerja di perusahaan anggota asosiasi tersebut.



Saturday, September 1, 2018

cloud disaster recovery (cloud DR)

Cloud disaster recovery (cloud DR) is a backup and restore strategy that involves storing and maintaining copies of electronic records in a cloud computing environment as a security measure. The goal of cloud DR is to provide an organization with a way to recover data and/or implement failover in the event of a man-made or natural catastrophe.
There are a number of benefits that make cloud disaster recovery appealing, including the variety of ways it can be implemented: in-house, partially in-house or purchased as a service. This flexibility allows smaller enterprises to implement robust disaster recovery plans that would otherwise have been impossible. Typically, cloud providers charge for storage on a pay-per-use model, based on capacity, bandwidth or seat. Because the provider is in charge of purchasing and maintaining its storage infrastructure, the customer doesn't have to spend money on additional hardware, network resources, data center space and the personnel required to support them.
In addition to cost, there are other important issues to consider before adopting cloud-based disaster recovery:
  • Does the organization have the necessary bandwidth and network resources to move data fast enough between the primary site and the cloud?
  • Can the organization encrypt data in flight as it leaves the data center?

Failover, failback keys to cloud recovery


Jeff Cato explores three
reasons why an organization
should pursue cloud DR.
Effective cloud disaster recovery provides continuity for services and the ability to fail over to a second site if there is a hardware or software failure of IT systems. Workloads are then failed back to their original locations when the crisis is resolved. Failover and failback can be automated. Organizations should run tests at regular intervals on isolated network segments that do not impact production data.
Organizations can choose to fail over data, entire applications or virtual machine (VM) images. When data is failed over, it is available from file services in the cloud. However, cloud recovery can take a long time if there is a great deal of data. Application-based data can be replicated to another application running in the cloud. Or an entire VM image, including data, can be replicated to the cloud and powered up and accessed if there is an on-premises failover.
Approaches to cloud disaster recovery
Approaches to cloud disaster recovery

Cloud service-level agreements

Service-level agreements (SLAs) hold cloud providers accountable and establish recourses and penalties if providers don't live up to their promises about cloud services.
SLAs can call for the provider to reimburse customers with credits if there is a service outage or data cannot be recovered during a disaster. Customers can usually apply credits toward their cloud bill or a subscription to another service, but these credits seldom make up for the loss of business if cloud recovery is delayed. Customers should also study SLAs to help formulate an exit strategy for the service.
SLAs for cloud disaster recovery can include guarantees for uptime, recovery time objectives ( RTOs ) and recovery point objectives. For instance, an RTO can be from one hour up to 24 hours or even longer, depending on how important an application is to restore the business. The faster the guaranteed restore time, the more expensive the service costs.

Cloud disaster recovery providers, vendors

Because the cloud removes the need to maintain a second site, DR is considered a prime use case for the cloud. Disaster recovery requires failing applications over to the cloud andfailing back, so hundreds of vendors have sprung up to offer cloud DR services. The leading cloud DR as a service vendors include Axcient, Bluelock, IBM Resiliency Services, iland Microsoft Azure Site Recovery and SunGard Availability Services.
sumber: https://searchdisasterrecovery.techtarget.com/definition/cloud-disaster-recovery-cloud-DR

Sunday, July 29, 2018

Cara Menghemat listrik AC (Air Conditioner) dengan stabilizer

Cara Menghemat listrik AC (Air Conditioner) dengan stabilizer

Bisakah AC Watt standar kita ubah menjadi lebih rendah, agar konsumsi listrik AC lebih rendah? 






Atau modifikasi lain sistem kelistrikannya, namun perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  • Modifikasi ukuran watt dari bawaannnya tetap memiliki resiko dan bisa saja gagal saat kita melakukannya
  • Perlu dipastikan bahwa dingin yg dihasilkan tidak berubah
  • Part/komponen perlu disiapkan sebagai bagian projek
Beberapa Modifikasi yg bisa di lakukan :
  1. Menggunakan Stabilizer
  2. Menggunakan inverter
  3. Merubah ukuran kapasitor
  4. Mengubah freon

Coba di uraikan satu per satu cara modifikasi di atas :

1. Menggunakan stabilizer

Stabilizer digunakan untuk mencegah lonjakan listrik pada suatu instalasi listrik yang memiliki beban AC, maka diperlukan Stabilizer untuk menyeimbangkan tegangan serta arus listrik yang diserap oleh AC pada instalasi tersebut. Stabilizer tidak hanya menyeimbangkan tegangan listrik , namun juga berfungsi sebagai Soft Start (Penyalaan Halus) supaya AC tidak menarik arus listrik terlalu besar pada saat dinyalakan.

Dan perlu diketahui bahwa AC  membutuhkan arus listrik yang terbilang besar pada saat unit dinyalakan. Setelah itu, konsumsi daya listrik selama AC beroperasi bisa dibilang irit. Karena arus listrik yang diserap AC terbilang besar pada saat dinyalakan, maka perubahan tegangan listrik juga terjadi, yaitu saat kita melihat lampu-lampu yang di dalam ruangan seperti berkedip sebentar. Dan dengan menambahkan stabilizer, maka sistem soft start lebih menghaluskan, dan bahkan mengurangi konsumsi daya listriknya.

Berapa kebutuhan Stabilizer yg diperlukan? dan ini dipasang per device AC nya:

Tabel kebutuhan Stabilizer untuk AC

Prinsip Kerja Cooling Tower

Prinsip Kerja Cooling Tower


Cooling Tower atau menara pendingin sering atau banyak kita jumpai di Pabrik-pabrik, mall atau sejenisnya. Cooling Tower Salah satu komponen utama pada AC sentral selain chiller, AHU, dan ducting adalah cooling tower atau menara pendingin.Apakah fungsi cooling tower, cara kerja, dan jenis-jenisnya? Di uraian singkat berikut dijelaskan mengenai cooling tower.



Fungsi Cooling Tower adalah sebagai alat untuk mendinginkan air panas dari kondensor dengan cara dikontakkan langsung dengan udara secara konveksi paksa menggunakan fan/kipas. Berikut gambar Cooling tower dengan sistem kerjanya:

Proses pendinginan air dengan cooling tower
Jenis-jenis Cooling Tower

1. Menara Pendingin Forced Draft

Prinsip kerjanya adalah udara dihembuskan ke menara oleh sebuah fan yang terletak pada saluran udara masuk sehingga terjadi kontak langsung dengan air yang jatuh, berikut gambarnya:

Cooling Tower Forced Draft
2. Cooling tower induced draft dengan aliran berlawanan 

Prinsip kerjanya :


  • Air masuk pada puncak dan melewati bahan pengisi (filler)
  • Udara masuk dari salah satu sisi (menara aliran tunggal) atau  pada sisi yang berlawanan (menara aliran ganda)
  • Fan mengalirkan udara melintasi bahan pengisi menuju saluran keluar pada puncak menara 


berikut gambarnya:

Cooling Tower induced draft dengan aliran berlawanan
3. Cooling Tower induced draft dengan aliran melintang

Prinsip kerjanya :



  •    Air panas masuk pada puncak menara, melalui bahan pengisi (filler)
  •    Udara masuk dari samping menara melewati filler, sehingga  terjadi kontak langsung dengan air (pendinginan) dan keluar menuju puncak 
Berikut gambarnya :

Cooling Tower induced draft dengan aliran melintang
Mengapa Perlu ada Cooling tower ?

Proses yang terjadi pada chiller atau unit pendingin untuk system AC sentral dengan system kompresi uap terdiri dari proses kompresi, kondensasi, ekspansi(perubahan tekanan) dan evaporasi. Proses ini terjadi dalam satu siklus tertutup yang menggunakan media berupa refrigerant yang mengalir dalam system pemipaan yang terhubung dari satu komponen ke komponen lainnya. Untuk mendinginkan refrigran, Kondensor menggunakan air sebagai media untuk proses pendinginannya. Uap refrigeran panas mengalir dalam pipa yang berada di dalam tabung sehingga terjadi proses pertukaran kalor. Uap refrigeran panas berubah fase dari fase gas menjadi cair, yang memiliki tekanan tinggi mengalir menuju alat ekspansi (perubah tekanan) , sementara air yang keluar dari kondensor memiliki temperatur yang lebih tinggi. Karena air ini akan digunakan lagi untuk proses pendinginan kondensor maka temperaturnya harus diturunkan kembali atau didinginkan pada cooling tower.

Langkah kerja Cooling Tower 

Berikut adalah step by step kerj Cooling Tower:

Langkah pertama adalah memompa air panas dari kondensor menuju menara cooling tower melalui system pemipaan yang pada ujungnya memiliki banyak nozzle untuk tahap spraying atau semburan.
 Air panas yang keluar dari nozzle (spray) secara langsung melakukan kontak dengan udara sekitar yang bergerak secara paksa karena pengaruh.fan/blower yang terpasang pada cooling tower. 
Kemudaian air yang sudah mengalami penurunan temperature ditampung dalam bak/basin untuk kemudian dipompa kembali menuju kondensor yang berada di dalam chiller. 
Pada cooling tower juga dipasang katup make up water yang dihubungkan ke sumber air terdekat untuk menambah kapasitas air jika terjadi kehilangan air ketika proses evaporative dan blowdown.
Prestasi menara pendingin biasanya dinyatakan dalam “range” dan “approach”, dimana range adalah penurunan suhu air yang melewati cooling tower dan approach adalah selisih antara suhu udara wet-bulb dan suhu air yang keluar. 
Perpindahan kalor yang terjadi pada cooling tower berlangsung dari air ke udara tak jenuh. Ada dua penyebab terjadinya perpindahan kalor yaitu perbedaan suhu dan perbedaan tekanan parsial antara air dan udara. Suhu pengembunan yang rendah pada cooling tower membuat sistem ini lebih hemat energi jika digunakan untuk system refrigerasi pada skala besar seperti chiller. 

Semoga bermanfaat ...
SUMBER: http://www.bloganton.info/2012/08/prinsip-kerja-cooling-tower.html

Saturday, July 21, 2018

Seminar Rosenberger Datacenter & Connectivity Evolution 15 Agustus 2018

We cordially invite you to attend "Rosenberger Datacenter & Connectivity Evolution”
Seminar which will be held at August 15 2018 at Grand Mercure Hotel, Lotus 1 Sky Ballroom 27th Floor,
Kota Baru bandar kemayoran, Jakarta Pusat.


Please send your detail information or  filled registration form to confirm your reservation/seat to :
Saras@rosenbergerAP.com (  Hp 0813 8213 6377 )   or     Iyan.sopiyan@rosenbergerAP.com ( Hp 0877 7999 5261)
Its will be great honored by your presence and look forward to your active participation at the seminar.

Sunday, June 17, 2018

Mencegah titik panas (hotspot) data center dengan temperature monitoring


Cooling failures and overheated servers have even worse consequences than power failures in most mission-critical data centers. A well-maintained uninterruptible power supply should keep servers operating until generators kick in, power is restored or an orderly shutdown occurs. But in today's world of high-density hardware and elevated operating temperatures, a cooling failure -- even with supposedly redundant air conditioners -- can cause server crashes in seconds. Use data center temperature monitoring to avoid data center hot spots that lead to early hardware failures and unexplainable data errors.

How data center hot spots occur

Hot spots are insidious; they can unknowingly creep up on you until equipment starts to fail or strange data anomalies appear. If you add or move equipment around without real knowledge of the room's cooling capacities, hot spots can occur. In nearly every data center, cooling capacities vary at different locations in the room and at different positions along the rack height. Since hot spots usually occur slowly, they can easily go unrecognized until it gets serious.

Find hot spots through data center temperature monitoring

The easiest and least expensive way to find data center hot spots is with temperature-indicating blanking panels. The multi-colored strips on these panels are heat-sensitive, and provide a visual indication of inlet air temperatures. Mount them near the top, middle and bottom of each rack, or at least in every other rack. Alternatively, mount temperature probes in front of hardware, close to the top, middle and bottom of racks. If you can only afford one per rack, put it in front of the most vulnerable hardware, which is usually the highest server in the rack.
Data center temperature and humidity probes are available as add-ons to smart rack power distribution units, as individual wireless devices and as part of some data center infrastructure management systems. All three offer software options that give real-time graphical displays of temperature conditions throughout the room. Ultimately, you should combine these readouts with computational fluid dynamics (CFD) air flow modeling, which allows you to verify cooling adequacy by simulating the proposed new installation before equipment is even installed.
Many data centers invest in redundant cooling units but don't actually have redundant cooling; sometimes it's just poor design. Some computer room air conditioning units have insufficient knowledge of how air really moves in a data center, causing even worse cooling conditions. In modern designs, redundant units run simultaneously with normal units, but at reduced speed, so you don't realize added servers are stealing redundant capacity until a cooling unit fails or is turned off for maintenance.
Thankfully, servers can tolerate a higher operating temperature for several days with little negative effect. ASHRAE's allowable thermal envelope goes up to 32 degrees Celsius or 89.6 degrees Fahrenheit in emergencies, but marginal redundancy -- combined with poorly planned computing hardware additions -- can cause serious overheating and thermal shutdowns within a short time after a cooling unit has quit.

Prevent data center cooling failures

Some think a solution is placing redundant coolers next to normal coolers in a raised floor design, but that's not dependable. When air emanates from different locations, there will be some difference in air flow pattern when a normal or redundant unit is operating, or when both run together. This seemingly small difference causes data center temperature variations that can result in significant hot spots.

Three causes of hot spots

  • New equipment adds too much heat. This could be due to insufficient cooling capacity, inadequate air flow, or both, but it's an endemic problem and no amount of adjustment is going to solve it.
  • Hardware is installed too high in the rack in an under-floor air facility, particularly one without containment. Air delivered from the floor increases in temperature as it rises, so is warmer than design temperature by the time it reaches the upper equipment. Without containment, hot discharge air recirculates from the backs of the racks and over the tops, where it mixes with air that is already marginally cool.
  • Organizations fail to adjust floor tiles in under-floor cooling environments, or discharge grills in overhead designs, to supply the amount of air needed to cool the added load.

Thermal indicators are a good first step, but it's impractical to turn off cooling units every time hardware changes just to see what overheats. The best way to avoid problems, particularly in redundant designs, is to model the cooling with CFD, which creates a 3D model of the data center, including specific cooling systems and rack heat loads. The program uses this information to solve thousands of complex partial differential equations that form an analysis of the air flow. The model delivers both color-coded graphics and data tables showing air quantity, velocity, temperature and pressure at every point in the room, plus under-floor in raised floor installations. It is then easy to see where extra cooling capacity exists and add new equipment there. It's also easy to fail a cooling unit in the model, rerun the computations, and see how well the redundancy works.

source: https://searchdatacenter.techtarget.com/tip/Dont-get-burned-by-data-center-hot-spots

Thursday, June 14, 2018

Standar Suhu Diruang Server

Standar Suhu Diruang Server

Standar suhu diruang server, server merupakan sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan tertentu dalam sebuah jaringan komputer. Server didukung dengan prosesor yang bersifat scalable dan RAM yang besar,dan juga dilengkapi dengan sistem operasi khusus, yang disebut sebagai sistem operasi jaringan. Server juga menjalankan perangkat lunak administratif yang mengontrol akses terhadap jaringan dan sumber daya yang terdapat di dalamnya contoh seperti halnya berkas atau pencetak, dan memberikan akses kepada stasiun kerja anggota jaringan.
Kehandalan server tidak hanya terletak pada kecanggihan teknologi server yang digunakan namun juga dipengaruhi oleh faktor external server itu sendiri, yakni faktor suhu didalam ruangan serta kelembaban ruangan di dalam ruangan server. lebih jauh lagi bila keperluan server terus bertambah sementara luas ruangannya yang juga terbatas.

Standar Suhu Diruang Server

Beberapa hal yang perlu diketahui pada ruang server adalah:
1. Suhu Terlalu rendah berarti boros biaya, terlalu tinggi maka komponen cepat rusak dan yang paling terpengaruh oleh suhu tinggi adalah “HARDISK”.
Posisi pengukuran suhu sangat menentukan validitas data, suhu ruangan sebaiknya 20-25C untuk harddisk, sedangkan utilitas SMART bisa dipakai sebaiknya kurang dari 50C untuk prosesor, utilitas lm-sensors (yang juga bisa mengukur tegangan dari power supply dan kecepatan putaran kipas. Kalau diukurnya diluar chasing, maka data tersebut sangat boleh jadi tidak mencerminkan kondisi suhu komponen sebenarnya.
Yang sering terjadi adalah kalau ternyata suhu pada komponen terlalu tinggi, kadang tidak teratasi dengan cara menurunkan suhu AC di ruangan saja, melainkan perlu kipas tambahan sehingga volume udara dingin yang lewat ke suatu chasing lebih banyak.
Standar Suhu Diruang Server
2. Kelembaban Jika udara yang masuk terlalu lembab maka bisa merusak perangkat ketika terjadi pengembunan, dan jika terlalu kering juga berbahaya karena akan ada listrik statis, inilah sebabnya AC untuk ruang server khusus karena mengatur suhu sekaligus kelembaban udara. Selain menggunakan AC Anda juga perlu memasang sebuah termohygrometer untuk memantau kelembaban yang ideal pada ruangan server.
Kelembaban ruang sebaiknya 40%-55%, walaupun kelihatannya mulai diperlunak batasnya karena faktor penghematan energi.
3. Kebersihan
Kebersihan volume udara yang lewat casing sangat besar, kotoran yang lewat seringkali menempel di lubang saringan atau pada kipas, apabila terlalu banyak kotoran, aliran udara terganggu dan pendinginan tidak efektif. Hal ini juga merupakan salah satu faktor penyebab overheating pada perangkat/komponen server.

Standar Suhu Diruang Server

Kesimpulan : Berapa suhu yang benar dan direkomendasikan? Rekomendasi umum menunjukkan bahwa Anda tidak harus membuat suhu ruangan berada di bawah 10°C (50°F) atau di atas 28°C (82°F). Meskipun hal ini kelihatannya beragam, namun secara umum disarankan untuk menjaga suhu lingkungan sekitar server berkiasr 20-21°C (68-71°F). Untuk menjaga kelembaban pada ruangan server, Anda dapat menggunakan termometer untuk memonitor kondisi suhu dan kelembaban pada ruangan server Anda.
Termometer yang cocok untuk ditempatkan di dalam ruangan server adalah dengan menggunakan Termohygrometer TH95, kenapa? karena TH95 mampu menampilkan suhu, kelembaban, dan waktu. Dapat dipasangkan dengan sensor suhu eksternal sehingga dapat menampilkan suhu di dalam maupun di luar ruangan. Hemat energi dengan tetap menjaga stabilitas dan akurasi pengukuran yang tinggi. Menampilkan sistem jam 12/24 sesuai pilihan. Mendukung satuan suhu Celsius dan Fahrenheit. Dilengkapi fungsi jam alarm terpadu dan fungsi kalender (bulan dan tanggal) serta bisa ditempatkan di meja maupun dinding.
sumber: https://ukur.co.id/standar-suhu-diruang-server/

Sunday, June 3, 2018

Why multi-cloud has to be the end game

Why multi-cloud has to be the end game

Saturday, June 2, 2018

Job Desc IT Outsourcing and Managed Services

Job Desc IT Outsourcing and Managed Services Head / Manager :

Design and deliver support and service solutions for Manages Service customers in line with ITIL and/or industry best practice

Monitoring the effectiveness of the team against SLA/KPI‟s, driving through change as needed to deliver continual service improvement

Ensure operational procedures and practices are well defined, documented and consistently applied

Instil a high performance culture in the team with a focus on team work, service excellence and ownership for resolving customer issues

Identifying and implementing change within the team to ensure it can take on new service offerings

Create project plans, design, and implement solutions including contribute proactively to new service development

Set and cascade business objectives and targets to the team

Manage and develop strategic partnerships with third party suppliers and other internal stakeholders

Provide input into the divisional strategy with particular focus into opportunities to grow and/or enhance the service offered

Solid technical Experience of Data Center with Cloud Computing technologies and solutions

Provide Infrastructure services in all areas needed: storage networking, Operating System, network security, directory services, server virtualization using system backup and restore, system and network monitoring, application installation and configuration


Provide Software as a Services (SaaS) & managed services

Supervise the internal IT support team in delivering daily IT supports for group of companies

To perform related duties and responsibilities as required

Create the maximum company value teaming with the other corporate members.


Wednesday, May 23, 2018

Membuat Data Center yang efektif dan efisien

Dalam beberapa kesempatan, saya berdiskusi dengan beberapa perusahaan yang mencoba membangun pusat data (data center). Di antara mereka sebenarnya juga ada yang telah memiliki ruang server yang cukup memadai. Dan tetap saja mereka merasa, bahwa yang mereka miliki bukanlah data center. Dalam pandangan mereka, data center adalah tempat yang sangat kompleks dengan infrastruktur fasilitas data center yang juga rumit.
Sejujurnya, dalam pandangan kami, kami tetap berusaha memberikan solusi dan pendekatan bahwa data center itu bisa efektif dan efisien. Oleh karena itu, selalu pertanyaan dasarnya adalah seberapa besar kita kapasitas data center yang kita akan bangun, miliki dan operasional. Mengapa ketiga hal ini penting, karena banyak yang bisa membangun, tetapi tidak mampu menjalankan operasional data centernya, dan kemudian akhirnya beralih atau menganggap gagal.
Pertama, pastikan kapasitas data center yang akan kita bangun. Tentunya ini akan sangat berhubungan dengan target bisnis yang akan didukung oleh data center itu. Data center yang hanya akan mengoperasionalkan hingga 24 server, maka dapat ditampung dalam 2 rak dan tidak memerlukan kapasitas yang berlebihan. Jadi pastikan kebutuhan bisnisnya. Apabila kita akan menggunakan blade server, berapa banyak server yang akan direncanakan, buatlah perencanaan minimal 5 tahun, sehingga investasi data center dapat dihitung dengan cermat.
Kedua, setelah mendapatkan kapasitas yang diinginkan, barulah dipersiapkan rencana fasilitasnya. Contoh tadi dengan 24 server dalam 2 rak, dan diperlukan 1 rak lagi untuk rak komunikasi data, maka hanya ada 3 rak dalam ruangan. Ingatlah dimensi 1 rak adalah 1200cm x 60cm, berikan minimal ruang gerak 60cm - 80cm disekitar rak. Maka dengan 3 rak tadi minimal ruangan adalah 3200cm x 3800cm. Maka hanya diperlukan minimal 4 x 4 meter untuk menampung.
Ketiga, efisiensi ruangan juga harus mempertimbangkan daya pendingin ruangan yang akan digunakan. Untuk ruangan dibawah 10 x 10 meter, masih sangat mungkin menggunakan AC split apabila terpaksa. Mengapa saya sebut demikian? Karena memang sebaiknya untuk ruang server menggunakan AC Presisi dibandingkan AC Split. Tetapi harga AC Presisi sangat mahal dibandingkan dengan AC Split. Oleh karena itu, sebagian perusahaan masih menggunakan AC Split, mulai dari tipe kaset hingga standing. Dan ini masih dapat dimungkinkan sejauh kita dapat mengontrol kelembaban dalam ruang data center.
Keempat, gunakan virtualisasi. Dengan jumlah server yang banyak, tentu banyak daya listrik yang diperlukan dan daya panas yang akan dihasilkan.Oleh karena itu, banyak yang mengambil pendekatan virtualisasi untuk menekan jumlah server. Ingat jumlah server yang sedikit tentu akan menekan jumlah investasi fasilitas pendukung lainnya. Dalam beberapa perusahaan, telah menggunakan Blade Server untuk mendukung efisiensi jumlah server, digabungkan dengan virtualisasi.
Kelima, penggunaan cold aisle containment. Penempatan perangkat di dalam rak mempertimbangkan diperlukannya adanya udara dingin dari depan rak / perangkat, kemudian masuk ke dalam perangkat dan keluar melalui belakang perangkat. Keluarnya ini akan menjadikan bagian hot-aisle. Sedangkan sumber dingin semua dikonsolidasi di depan rak dan ditutup secara khusus, sehingga menjadi cold-aisle containment. Dengan cara ini, udara dingin akan fokus terserap masuk ke perangkat (di rak) dan kemudian keluar. Sehingga pendingin difokuskan masuk ke dalam cold-aisle containment, baik dengan menggunakan AC Presisi ataupun menggunakan AC Split. Dengan cara ini, maka kita akan sangat menghemat penggunaan daya listrik untuk pendingin.
Keempat, menggunakan udara dingin. Mungkin tidak valid untuk semua lokasi di Indonesia, tetapi ada beberapa bagian yang memang masih dingin, tentu tidak memerlukan daya pendingin yang tinggi untuk mencapai titik dingin yang diperlukan ruang server. Kita bisa menggunakan udara dan sirkulasi khusus untuk memasukkan udara dingin dan menarik udara panas keluar dari perangkat.
Kelima, apabila jumlah perangkat banyak, dan memerlukan UPS yang besar, maka pisahkan UPS dari ruang data center. Dalam beberapa perusahaan, untuk alasan praktis, UPS dengan kapasitas besar (20KVA keatas) digabungkan penempatannya di dalam ruangan. Padahal UPS ini yang paling banyak menyedot panas, maka akan sangat bijaksana bila kita memisahkan UPS dalam ruang sendiri, dan cukup menggunakan pendingin yang memadai (AC Split) untuk menjalankan pendingin ruang UPS.
Keenam, gunakan Environment Monitoring System. Kegunaan EMS adalah untuk memastikan semua fasilitas pendukung ruang server termonitor dengan baik. Mulai dari kontrol temperatur dan kelembaban, kebocoran air dari AC Presisi / AC Split, sumber daya yang aktif (PLN atau Genset / UPS), hingga kondisi pintu yang terbuka / tertutup. Dengan mengaktifkan EMS, maka semua fasilitas ruangserver dapat dimonitor dengan baik, dan kita akan mendapatkan alert melalui SMS atau Email apabila terjadi masalah. Dengan EMS juga kita akan mendapatkan data tren dari suhu, kelembaban, dll, sehingga penurunan kualitas perangkat dapat kita deteksi lebih awal.
Itu sebagian yang bisa kami share terkait ruang server / data center yang efisien dan efektif. Silahkan kontak kami: askme@dayaciptamandiri.com atau HP 08121057533 apabila perlu bantuan desain, restrukturisasi, optimalisasi ruang server / data center perusahaan anda.
repost: https://id.linkedin.com/pulse/membuat-data-center-yang-efektif-dan-efisien-fanky-christian

Saturday, May 12, 2018

Membangun Data Center untuk Smart City

Dalam membangun data center untuk smart city, ditemukan beberapa tantangan, diantaranya :

  • infrastruktur data center harus dapat dibangun dalam waktu cepat
  • infrastruktur data center dapat menampung pengembangan aplikasi dalam waktu cepat
  • infrastruktur data center perlu memiliki kemampuan pengembangan storage
Semua ini memerlukan infrastruktur data center yang tepat.


Salah satu solusi yang bisa dikembangkan adalah menggunakan pendekatan Hyper Converged. Dengan menggunakan solusi Hyper Converged Infrastructure (HCI) , maka kita dapat menggunakan 2 server identik untuk membangun hingga 20 server virtual. 

Infrastruktur data center yang harus tersedia:
- Ruangan , minimal 3 x 2 meter 
- Rak ukuran 42U, untuk menampung koneksi kabel dan perangkat server Hyper Converged.
- UPS minimal 3 KVA.
- Pendingin ruangan untuk 3 x 2 meter bisa menggunakan 2 x 1.5 PK
- Switch untuk koneksi jaringan ke user 
- Router untuk koneksi ke luar jaringan / Internet

Dengan menggunakan solusi HCI, maka kita sangat menghemat waktu, tempat dan melakukan setup dengan mudah dan cepat.

Kami menggunakan solusi HCI dari Sangfor, dengan pertimbangan :
1. Dapat diimplementasi dengan waktu cepat, dan kebutuhan storage dapat disesuaikan kebutuhan.
2. Penambahan kapasitas storage dapat dilakukan dengan mudah.
3. Dapat menggunakan 2 server identik yang telah dimiliki, tinggal membeli lisensi yang diperlukan.
4. Implementasi telah termasuk lisensi untuk virtual firewall, virtual router sehingga tidak perlu banyak perangkat lain.
5. Tidak diperlukan lisensi tambahan untuk virtual server, sehingga kita hanya tinggal membeli lisensi Windows Server / Linux yang diperlukan untuk kebutuhan kita.



Semua ini bisa didapat dengan menggunakan Sangfor Hyper Converged Infrastructure. 





Kontak kami untuk kebutuhan data center untuk smart city Anda.





Sunday, April 8, 2018

Survei Microsoft: Pemimpin TI di Indonesia Prioritaskan Hybrid Cloud untuk Proses Transformasi TI

Jakarta, 18 Januari 2017 – Pemimpin teknologi informasi (TI) di Asia Pasifik mengambil langkah tegas dalam menyesuaikan pendekatan teknologi dengan proses transformasi digital organisasi, sembari mengelola infrastruktur TI yang sudah berjalan. Sebanyak 48% dari para pemimpin TI di Asia Pasifik memprioritaskan hybrid cloud dibandingkan public cloudataupun private cloud untuk organisasi mereka. Data tersebut merupakan salah satu dari beberapa temuan kunci dalam survei Microsoft Asia Pasifik yang melibatkan 1.200 pemimpin TI[1],[2], di 12 negara[3] untuk memahami bagaimana mereka mengembangkan strategi infrastruktur TI untuk memenuhi kebutuhan bisnis digital.
Beberapa tahun mendatang akan menjadi masa-masa penting bagi para pemimpin TI saat menjalankan rencana transisi ke infrastruktur TI modern berbasis cloud. Menurut IDC, sebanyak 60% dari 1.000 organisasi di Asia Pasifik akan menjadikan transformasi digital sebagai kunci strategi bisnis mereka pada penghujung tahun 2017 ini.
Kekinian Digital atau Kekacauan Digital
infografik-kekinian-digital-atau-kekacauan-digitalPemimpin TI berusaha menyeimbangkan kebutuhan TI, tuntutan anggaran, serta tuntutan untuk memodernisasi sistem yang dapat memenuhi tantangan masa depan digital. Survei menemukan bahwa saat ini 43% dari responden di Indonesia sudah menggunakan hybrid cloud. Angka ini diperkirakan akan mengalami peningkatan hingga 48% dalam 12-18 bulan ke depan. Adapun 30% lainnya menggunakan private cloud dan 27% memanfaatkan public cloud. Survei juga menunjukkan bahwa kecil kemungkinan responden meningkatkan investasi baik di solusi private cloud maupun public cloud karena permintaan akan pendekatan hybrid yang lebih terintegrasi semakin menguat.
Saat ini, pemimpin TI mendambakan kemudahan dalam menghadapi lingkungan TI yang semakin kompleks untuk dikelola:
  • Pemimpin TI masih harus mengelola aset TI tradisional untuk mendukung aplikasi yang sudah ada dan memenuhi kebutuhan compliance
  • Inovasi cloud menyebabkan maraknya penggunaan aplikasi berbasis cloud. Terdapat sekitar 369 aplikasi yang digunakan oleh tiap organisasi di Indonesia (dibandingkan dengan Asia Pasifik yang memiliki rata-rata 340 aplikasi). Oleh karena itu, dibutuhkan alat yang kuat untuk mengelolanya
  • Pemimpin TI dituntut untuk memberikan perhatian di berbagai bidang. Mereka menghabiskan sekitar 51% dari waktu mereka untuk memelihara infrastrukturmemenuhi compliance, serta menyelesaikan masalah operasional; 24% waktu untuk mengembangkan kemampuan digital generasi berikutnya; dan 25% waktu untuk kepemimpinan bisnis, khususnya pada inisiatif transformasi digital.
  • Terkait dengan transformasi digital, responden di Indonesia menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengoptimalkan kegiatan operasional dibandingkan menarik pelanggan, memberdayakan karyawan, ataupun berinovasi dengan produk, jasa, serta model bisnis baru
  • Para responden mengkhawatirkan kesenjangan keterampilan dalam organisasi mereka. Mengutip jawaban responden, tiga keterampilan yang paling dibutuhkan ada di bidang keamanan (59%), manajemen aplikasi komputasi awan (57%), dan analisis data (37%).
  • Keamanan terus menjadi perhatian di dunia yang mengalami peningkatan ancaman siber setiap harinya. Tiga alasan utama yang menjadi kekhawatiran responden antara lain:
  1. Malware dan pencurian data oleh penjahat siber
  2. Pencurian data oleh karyawan
  3. Shadow IT’, seperti solusi dan layanan yang dapat digunakan di luar kepemilikan, serta kontrol dari departemen TI
  • Organisasi di Asia Pasifik rata-rata sudah menggunakan 40 produk keamanan
    • Di Indonesia, 85% dari responden setuju akan adanya kebutuhan untuk berinvestasi lebih banyak di bidang solusi dan jasa keamanan. Sementara itu, 78% menyetujui adanya kebutuhan untuk mengurangi rumitnya pengelolaan portofolio solusi dan layanan keamanan TI.
Transformasi TI dengan Hybrid Cloud
Mengadopsi strategi hybrid cloud menjadi langkah lanjutan bagi organisasi yang ingin mengambil manfaat dari kemampuan teknologi komputasi awan yang modern, tetapi ingin tetap mengelola aset tradisional mereka. Saat ini, sebanyak 48% dari para pemimpin TI memprioritaskan hybrid cloud. Sembilan dari sepuluh responden mengatakan mereka akan memprioritaskan hybrid cloud yang terintegrasi dengan alat manajemen umum, baik di public maupun private cloud.
foto-3Rizki Muhammad, Enterprise IT Architect & Information System Head, PT Serasi Autoraya mengatakan, “Departemen TI memiliki tantangan berat untuk menyeimbangkan kebutuhan digital bisnis saat ini dan masa depan. Cloud memiliki sejumlah perangkat baru yang beragam, yang memungkinkan terbentuknya manajemen yang lebih baik, melahirkan aplikasi yang cerdas, serta melakukan analisis yang canggih. Hal ini memberikan kami kesempatan untuk berinovasi sembari meningkatkan efisiensi pada berbagai aspek, termasuk aspek biaya.” Rizki menambahkan, “Perkembangan teknologi tidak dapat diabaikan, melainkan perlu dikelola. Oleh karena itu, hybrid cloud menjadi teknologi yang tepat bagi kebutuhan organisasi di masa transisi ini.”
Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar pemimpin TI di Indonesia masih memiliki pandangan tradisional terhadap komputasi awan. Meskipun 85% mengaku nyaman untuk menggunakan seluruh aplikasi bisnis mereka di public cloud, lebih dari setengah responden hanya menggunakannya untuk aplikasi mendasar seperti email dan aset online bagi pelanggan (website). Hanya 41% responden yang menggunakan cloud untuk pengembangan aplikasi dan operasi.
foto-2Yos Vincenzo, Cloud & Enterprise Business Group Lead, Microsoft Indonesiamenjelaskan, “Terdapat empat area yang perlu ditingkatkan para pemimpin TI untuk mempercepat transformasi digital organisasi mereka: Pertama, manfaatkan alat-alat modern untuk mengelola peningkatan keamanan dan kompleksitas. Kedua, kuasai infrastruktur dengan alat manajemen piranti lunak yang mencakup public, private, dan multiple branded cloud. Ketiga, berpindah lah ke hybrid cloud yang terintegrasi untuk mendapatkan manfaat terbaik dari public dan private cloud. Terakhir, tingkatkan beban kerja di cloud untuk berinovasi, mempersingkat waktu ke pasar, dan memaksimalkan potensi yang ditawarkan teknologi digital terbaru.”
Microsoft Perkenalkan Windows Server 2016 dan System Center 2016 untuk mempercepat perpindahan ke Hybrid Cloud
Para pemimpin TI perlu memulai perencanaan perjalanan transformasi digital organisasi saat ini juga, dimulai dengan strategi hybrid cloud yang jelas. Dengan membawa model komputasi awan untuk bisnis, pemimpin TI dapat menambahkan skalabilitas dan fleksibilitas pada model mereka saat ini, tanpa mengorbankan aspek kontrol ataupun keamanan.
Yos Vincenzo melanjutkan, “Bagi sebagian besar bisnis, transisi ke bisnis digital dapat menjadi langkah yang penuh dengan tantangan karena warisan sistem dan prosesnya. Pemimpin TI harus memiliki urgensi untuk memulai perjalanan digital ini, atau siap menghadapi risiko terhadap gangguan. Microsoft berkomitmen untuk membantu pelanggan dalam memaksimalkan perjalanan digital mereka, terlepas dari ukuran dan anggarannya. “
(ki-ka) Yos Vicenzo, Cloud & Enterprise Business Group Lead, Microsoft Indonesia & Rizki Muhammad, Enterprise IT Architect & Information System Head, PT Serasi Autoraya
(ki-ka) Yos Vicenzo, Cloud & Enterprise Business Group Lead, Microsoft Indonesia & Rizki Muhammad, Enterprise IT Architect & Information System Head, PT Serasi Autoraya
Microsoft memiliki sistem keamanan terpasang yang unik untuk semua layanan cloud dan infrastruktur hybrid secara terpadu di semua level – perangkat, aplikasi, dan infrastruktur. Komitmen Microsoft untuk memungkinkan transformasi digital adalah dengan menghadirkan Windows Server 2016 dan System Center 2016 di Indonesia.
  • Windows Server 2016 adalah sistem operasi berbasis cloud yang mampu mendukung beban kerja organisasi saat ini, sembari memperkenalkan teknologi baru yang membuat perpindahan ke cloud menjadi lebih mudah dan aman – hal yang dibutuhkan untuk transisi bisnis digital. Windows Server 2016 menghadirkan inovasi seperti keamanan multi-layer untuk mencegah serangan siber dan mendeteksi kegiatan yang mencurigakan; komputasi berdasarkan piranti lunak, penyimpanan dan jaringan fitur oleh Azure; serta platform aplikasi berbasis cloud untuk menjalankan berbagai aplikasi, termasuk aplikasi cloud-native.
  • System Center 2016 memudahkan organisasi untuk menyebarkan, mengkonfigurasi, dan mengelola software-defined datacenteserta infrastruktur hybrid cloud. System Center terbaru menawarkan berbagai kemampuan yang memperkuat kapabilitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan bisnis, memberikan dukungan mulai dari penyediaan infrastruktur fisik dan virtual, hingga proses TI dan manajemen pelayanan. Ketika dilengkapi dengan Operations Management Suite, organisasi akan dapat secara efektif menyederhanakan dan mengelola beberapa solusi cloud dari satu konsol saja.
Saat ini juga, pelanggan dapat memulai mencoba System Center 2016 Evaluation, Operations Management Suite serta mengunduh Windows Server 2016 Evaluation.
[1] Pembagian responden: 55,5% responden mengambil keputusan teknologi informasi. 44,5% responden memengaruhi pengambilan keputusan teknologi informasi.
[2]  Ukuran organisasi: 41% responden bekerja di organisasi yang memiliki 250 – 499 PC; 59% bekerja di organisasi yang memiliki lebih dari 500 PC
[3]  Negara yang terlibat dalam survei: Australia, China, Indonesia, Hong Kong, Taiwan, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam
source: https://news.microsoft.com/id-id/2017/01/18/survei-microsoft-pemimpin-ti-di-indonesia-prioritaskan-hybrid-cloud-untuk-proses-transformasi-ti/