Skip to main content

Translate

cloud disaster recovery (cloud DR)

Cloud disaster recovery (cloud DR) is a backup and restore strategy that involves storing and maintaining copies of electronic records in a cloud computing environment as a security measure. The goal of cloud DR is to provide an organization with a way to recover data and/or implement failover in the event of a man-made or natural catastrophe.
There are a number of benefits that make cloud disaster recovery appealing, including the variety of ways it can be implemented: in-house, partially in-house or purchased as a service. This flexibility allows smaller enterprises to implement robust disaster recovery plans that would otherwise have been impossible. Typically, cloud providers charge for storage on a pay-per-use model, based on capacity, bandwidth or seat. Because the provider is in charge of purchasing and maintaining its storage infrastructure, the customer doesn't have to spend money on additional hardware, network resources, data center space and the personnel required to support them.
In addition to cost, there are other important issues to consider before adopting cloud-based disaster recovery:
  • Does the organization have the necessary bandwidth and network resources to move data fast enough between the primary site and the cloud?
  • Can the organization encrypt data in flight as it leaves the data center?

Failover, failback keys to cloud recovery


Jeff Cato explores three
reasons why an organization
should pursue cloud DR.
Effective cloud disaster recovery provides continuity for services and the ability to fail over to a second site if there is a hardware or software failure of IT systems. Workloads are then failed back to their original locations when the crisis is resolved. Failover and failback can be automated. Organizations should run tests at regular intervals on isolated network segments that do not impact production data.
Organizations can choose to fail over data, entire applications or virtual machine (VM) images. When data is failed over, it is available from file services in the cloud. However, cloud recovery can take a long time if there is a great deal of data. Application-based data can be replicated to another application running in the cloud. Or an entire VM image, including data, can be replicated to the cloud and powered up and accessed if there is an on-premises failover.
Approaches to cloud disaster recovery
Approaches to cloud disaster recovery

Cloud service-level agreements

Service-level agreements (SLAs) hold cloud providers accountable and establish recourses and penalties if providers don't live up to their promises about cloud services.
SLAs can call for the provider to reimburse customers with credits if there is a service outage or data cannot be recovered during a disaster. Customers can usually apply credits toward their cloud bill or a subscription to another service, but these credits seldom make up for the loss of business if cloud recovery is delayed. Customers should also study SLAs to help formulate an exit strategy for the service.
SLAs for cloud disaster recovery can include guarantees for uptime, recovery time objectives ( RTOs ) and recovery point objectives. For instance, an RTO can be from one hour up to 24 hours or even longer, depending on how important an application is to restore the business. The faster the guaranteed restore time, the more expensive the service costs.

Cloud disaster recovery providers, vendors

Because the cloud removes the need to maintain a second site, DR is considered a prime use case for the cloud. Disaster recovery requires failing applications over to the cloud andfailing back, so hundreds of vendors have sprung up to offer cloud DR services. The leading cloud DR as a service vendors include Axcient, Bluelock, IBM Resiliency Services, iland Microsoft Azure Site Recovery and SunGard Availability Services.
sumber: https://searchdisasterrecovery.techtarget.com/definition/cloud-disaster-recovery-cloud-DR

Comments

Popular posts from this blog

Timer AC bergantian

Bagaimana sich prinsip kerja AC yang bergantian? Seperti yang terangkai pada ACPDB, yang kita butuhkan adalah 1 buah timer dan 2 buah kontaktor. Pada dasarnya rangkaiannya adalah seperti gambar diatas. Seperti kita ketahui, timer dan kontaktor akan bekerja apabila mendapatkan catuan 220 V. Pada timer catuan bisa dikoneksikan di lubang “L” dan “N”, sedang pada kontaktor dilubang “A1” dan “A2”. Itulah kenapa pada saat mati listrik komponen2 tersebut tidak bekerja. Timer berfungsi sebagai switch dari 2-1 atau 2-3 dan lubang “2” sebagai sumber yang dialiri arus listrik. Sesuai namanya alat ini akan bergantian dari 2-1 atau 2-3 berdasarkan waktu yang sudah kita atur pada sirip biru. Satu sirip merepresentasikan 30 menit. Sedang pada kontaktor untuk tipe Telemecanique, sumbu-sumbu saklarnya adalah 1-2, 3-4, 5-6, NO-NO, NC-NC.  Jika “A1” dan “A2” tidak dicatu maka 1-2 (open), 3-4 (open), 5-6 (open), NO-NO (open), NC-NC (close/terhubung). Dan bila “A1” dan “A2” dicatu  maka 1-2 (close), 3-4 (clo…

Pemilihan jenis modul AMF (Automatic Main Failure)

Pemilihan jenis modul AMF (Automatic Main Failure)

Dari sekian banyak jenis modul yang ada dipasaran, kami menawarkan beberapa alternatif untuk jenis modul AMF yang dapat kami sediakan. antara lain menggunakan modul dari DEEPSEA, smart relay atau timer. tentunya dengan beragam pilihan tersebut ada beberapa keuntungan atau kelebihan dari masing masing modul tersebut. sebagai misal menggunakan modul AMF dari DEEPSEA akan sangat cocok jika modul ini dapat berinterakasi langsung dengan genset. terutama jika mesin genset belum dilengkapi genset controller dan masih mengandalkan panel genset manual. untuk pabrikan genset sekarang ini pada panel genset sudah dilengkapi dengan AMF, sehingga tidak perlu panel AMF - ATS dengan menggunakan modul DEEPSEA atau sejenisnya. sehingga dalam pemilihanya dapat menggunakan timer, smart relay atau produk lain seperti ATS controller C20 dari socomec.


Modul DEEPSEA 4420

AMF Module DSE 4420 Modul ini memiliki banyak fitur antara lain ; Start / stop gensetDigital …

Contoh Panduan Standarisasi Area Data Center

Berikut adalah contoh Panduan Standarisasi Area Data Center

PANDUAN - IK Standarisasi Area Data Center Article Number: 49 | Rating: Unrated | Last Updated: Mon, Nov 25, 2013 at 2:13 PM BAB I KEBIJAKAN
1.1.Area Data Center
Areadata center termasuk aset vital perusahaan dan diperlakukan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Sistem Manajemen Pengamanan Perusahaan.

Seksi Jaringan bertanggungjawab terhadap pengamanan fisik dan logik. sedangkan fungsi Sekuriti terhadap pengamanan fisik.


1.2.Pertimbangan Dalam Hal Penentuan Lokasi Area Data Center
Beberapa pertimbangan yang harus ada dalam menentukan lokasi ruang data center, yaitu :

1.Memungkinkan untuk pengembangan yang memadai, misalnya mempertimbangkan pengembangan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan.
2.Mempertimbangkan ruang yang tidak "terlalu” banyak dilalui untuk operasional lain, namun tetap dapat dijangkau dengan mudah.
3.Memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan pekerja.
4.Memenuhi persyaratan sebagaimana yang …