Skip to main content

Arsitektur Leaf-Spine untuk data center

Setelah bertahun-tahun menggunakan Tree Architecture, sekarang beralih ke Leaf-Spine Architecture, khususnya untuk data center.

Distributed Core/Leaf-Spine Network Architecture: An Intro

By Rajesh K
Distributed Core/Leaf-Spine Network Architecture is catching up with large data center/cloud networks due to its scalability, reliability, and better performance (vs. 3-tier Core-Aggregation-Edge Tree Networks). Maybe it’s time for enterprises and smaller networks to consider implementing Distributed Core/Leaf-Spine Networks, as the architecture enables companies to start small and scale up massively. Here’s a short introduction.

Distributed-Core-Leaf-Spine-Network-Architecture

A basic architecture diagram for Distributed Core/Leaf-Spine Networks is shown above. As you can see, the top layer has Spine Switches and the layer below has Leaf Switches. The Servers/Storage equipment (or) Top of the Rack (ToR) Switches connect to the Leaf Switches, as shown in the bottom of the diagram.
As you can see, All Leaf Switches connect to All Spine Switches, but Leaf and Spine Switches are not connected directly to each other.
It is possible to have a simple Distributed Core network with 2 Leaf switches and 4 spine switches (as shown above). If each Leaf Switch has 48 Ports and 2 Uplinks, the total number of Servers that you can connect in this configuration will be 48 x 4 = 192. You can expand the network quickly by adding Leaf and Spine Switches – More than 6000 servers can be connected to multiple Leaf/Spine Switches with massive backplane capacity.
The capacity/expandability of the network will depend on the No. of ports on the Spine Switches and No. of uplinks on the Leaf Switches. With Leaf-Spine/Distributed Core networks, you can either design for a non-blocking architecture or over-subscribed architecture, depending on your requirement and budget.
The number of links (between Leaf and Spine switches) = No. of Leaf Switches x No. of Spine Switches. As the network expands, the No. of links increases tremendously. In Distributed Core/Leaf-Spine architecture, all the links are utilized to send data traffic, unlike Core-Distribution-Access networks where redundant links are disabled using STP. This network can be implemented in L2 using TRILL/SPB (Shortest Path Bridging) protocols; but more commonly, it is implemented in L3 using ECMP, BGP or OSPF protocols.
Advantages:
  1. It is possible to use low-cost 1U or 2U Spine Switches Vs. Expensive Chassis-based Core Switches.
  2. It is possible to start small and expand the Spine/Leaf network by adding more switches, when required, without discarding the existing setup.
  3. There are networking vendors who make specialized Leaf/Spine switches.
  4. It is possible to configure the Distributed Core network to offer maximum redundancy/resiliency. Even if a Spine Switch fails, there will only be a performance degrade Vs. Service outage.
  5. It is possible to achieve higher throughput/bandwidth & connect more servers with Distributed Core networks Vs. Core-Aggregation-Edge Networks.
  6. Leaf/Spine networks can handle both East-West traffic (Server to Server: Cloud computing, Hadoop, etc.) and North-South traffic (Web content, Email, etc.) efficiently. The traditional networking model is more suitable for the latter, and expansion is limited.
  7. It is possible to use Standards-based protocols (even in a multi-vendor setup) to implement Leaf-Spine networks. But some vendors have developed their own proprietary protocols/fabrics, as well.
  8. Distributed Core networks enable Containerized (and Expandable) Data Centers.
  9. Networks can scale up/down/out massively and quickly.
  10. Can handle East-West (Server to Server) traffic efficiently.

Comments

  1. BlueHost is definitely the best hosting company for any hosting services you require.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Timer AC bergantian

Bagaimana sich prinsip kerja AC yang bergantian? Seperti yang terangkai pada ACPDB, yang kita butuhkan adalah 1 buah timer dan 2 buah kontaktor. Pada dasarnya rangkaiannya adalah seperti gambar diatas. Seperti kita ketahui, timer dan kontaktor akan bekerja apabila mendapatkan catuan 220 V. Pada timer catuan bisa dikoneksikan di lubang “L” dan “N”, sedang pada kontaktor dilubang “A1” dan “A2”. Itulah kenapa pada saat mati listrik komponen2 tersebut tidak bekerja. Timer berfungsi sebagai switch dari 2-1 atau 2-3 dan lubang “2” sebagai sumber yang dialiri arus listrik. Sesuai namanya alat ini akan bergantian dari 2-1 atau 2-3 berdasarkan waktu yang sudah kita atur pada sirip biru. Satu sirip merepresentasikan 30 menit. Sedang pada kontaktor untuk tipe Telemecanique, sumbu-sumbu saklarnya adalah 1-2, 3-4, 5-6, NO-NO, NC-NC.  Jika “A1” dan “A2” tidak dicatu maka 1-2 (open), 3-4 (open), 5-6 (open), NO-NO (open), NC-NC (close/terhubung). Dan bila “A1” dan “A2” dicatu  maka 1-2 (close), 3-4 (clo…

Contoh Panduan Standarisasi Area Data Center

Berikut adalah contoh Panduan Standarisasi Area Data Center

PANDUAN - IK Standarisasi Area Data Center Article Number: 49 | Rating: Unrated | Last Updated: Mon, Nov 25, 2013 at 2:13 PM BAB I KEBIJAKAN
1.1.Area Data Center
Areadata center termasuk aset vital perusahaan dan diperlakukan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Sistem Manajemen Pengamanan Perusahaan.

Seksi Jaringan bertanggungjawab terhadap pengamanan fisik dan logik. sedangkan fungsi Sekuriti terhadap pengamanan fisik.


1.2.Pertimbangan Dalam Hal Penentuan Lokasi Area Data Center
Beberapa pertimbangan yang harus ada dalam menentukan lokasi ruang data center, yaitu :

1.Memungkinkan untuk pengembangan yang memadai, misalnya mempertimbangkan pengembangan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan.
2.Mempertimbangkan ruang yang tidak "terlalu” banyak dilalui untuk operasional lain, namun tetap dapat dijangkau dengan mudah.
3.Memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan pekerja.
4.Memenuhi persyaratan sebagaimana yang …

Mendesigns dan Menghitung UPS untuk Data Center

Mendesigns dan Menghitung UPS untuk Data Center UPS dan data center mungkin bisa di sebut sayur tanpa garam, hambar jika tidak saling melengkapi. 
Tapi untuk menentukan kebutuhan akan UPS data centerperlu perhitungan yang matang agar UPS dan server tetap awet dan selalu ON 24 jam. banyak sekali jenis UPS dan daya yang di tawarkan. Kita harus menghitung kebutuhan beban keseluruhan server agar ketika listrik down UPS dapat menghandle beberapa detik untuk listrik pindah ke genset begitu pula sebaliknya, Oke untuk menentukan itu semua tentukan dulu jenis UPS yang akan anda gunakan.
Oke kita sedikit belajar dulu tentang UPS :)
PRINSIP KERJA UPS Setiap PC membutuhkan daya listrik. Apabila aliran listrik (main power) terputus, PC akan mati (tidak berfungsi). Fungsi dasar UPS (Uninterruptible Power Supply) adalah menyediakan suplai listrik SEMENTARA ke beban (PC) tanpa terputus pada saat main power tidak bekerja agar seluruh proses dapat dihentikan dengan benar, seluruh data dapat disimpan den…